11.11.2010

kerja sampingan sebagai "loper koran"

tulisan saya yang satu ini terinspirasi dari seorang anak SMP yang berjalan mondar mandir di sekitar peron kereta dengan membawa setumpuk koran di genggaman lengannya. Berjalan perlahan menghampiri saya, iapun menawarkan jualannya ke pada saya.
Anak SMP : ka, korannya ka..?
Saya : ngga dek, makasih..
dan iapun akhirnya duduk sejenak di samping saya, sekedar istirahat iapun membeli segelas air putih. Dengan sangat terharu dan bangga saya memandangi anak ini dari ujung rambut hingga kaki, tubuh yang cukup bersih, dengan kaus hitam celana panjang biru SMP dan sepatu sekolah. Perkiraan saya, sepulangnya ia dari sekolah ia langsung berjualan koran di kereta.
Sehabisnya ia beristirahat, iapun kembali berjalan dan menawarkan korannya kepada semua orang..

******

pesan moral yang tersimpul dalam pengalaman saya ini adalah, ada baiknya bagi kita (para mahasiswa) untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, dan sebisa mungkin untuk meringankan beban yang di pikul orangtua terutama dalam hal materi. Mulai saat inilah waktunya kita untuk menyadari seberapa kuat kita harus menghadapi hidup kita dan berinisiatif untuk memikul semua masalah dengan bekerja keras dan berdoa :)

Mother with Her Children in the Train

Suatu hari, dimana ketika saya baru saja pulang dari kuliah, di dalam kereta AC, tepat dihadapan saya ada seorang ibu beserta ketiga anaknya (1laki dan 2perempuan). Seorang anak lakinya sekitar umur 10tahun, dan dua perempuan di antaranya sekitar umur 7 dan 4tahun.
Pada awal saya memasuki kereta mereka duduk dengan posisi si ibu memangku anaknya yang paling kecil, dan disebelah kirinya kedua anaknya yang lain. Ketiga anaknya terlihat sangat rukun pada awalnya, mereka menyanyi, bercanda, tertawa bersama. Namun, si ibu merasa tidak senang dengan kelakuan/tingkah ketiga anaknya di dalam kereta, lalu si ibu mengisyaratkan anak-anaknya untuk berdiam diri dengan melototi mereka. Para anak yang diperlakukan seperti itu oleh ibunya, merasa takut dan enggan untuk melanjutkan kegirangan mereka.
Sampai pada pemberhentian berikutnya, dan kereta melanjutkan perjalanan kembali, ketiga anak itu masih berdiam diri, pada saat si kakak memulai pembicaraan mereka mulai bercanda kembali, tiba-tiba si anak paling kecil menangis kesakitan karena bertengkar dengan si anak nomor dua, mereka berkelahi dan si kakak tertua berusaha melerai mereka. Kontan si ibu merasa jengkel akan hal tersebut, dengan cara paksa si ibu menarik si anak ke dua untuk duduk di sebelah kanannya, keduanya pun akhirnya menangis kejar. Si ibu lalu mencoba menghibur anaknya yang paling kecil yang sedang duduk di pangkuannya, sedang si kakak tertua berpindah duduk di sebelah adiknya yang pertama. Sementara ibu menghibur anak yang paling kecil, tangan kanannya terus berusaha untuk melampiaskan kekesalannya kepada anak keduanya itu, si ibu mencubit paha anak itu, semakin anak keduanya menangis kejar, si ibu memukul pipinya dan menyuruhnya diam, anak pertamanyapun tak luput dari omelannya, ia habis diomeli karna telah mengajak adik-adiknya bercanda. merasa tidak terima iapun membantah omongan si ibu. Selesai berdebat dan si anak mengalah, namun si anak kedua tetap menangis terisak-isak dan dengan rasa tidak tega si kakak pertama mencoba untuk mendiamkannya dengan mengelus rambut adiknya, dan tanpa sadarpun ia meneteskan air mata.
Hingga pada akhirnya semua teredam dan merasa membaik, mereka bertigapun kembali bercanda, bernyanyi bersama, tertawa bersama. Namun tetap, si ibu memasang tampang yang seolah tidak peduli akan ketiga anaknya.


*****

entah kenapa saya mengutip kisah ini, tapi semoga saja ini bermanfaat untuk kita sebagai para calon ibu nantinya, untuk lebih berlembut diri dan sifat dalam menghadapi kelakuan anak-anak nantinya. Selain itu kita diajarkan agar bisa menahan emosi dan mengajarkan yang baik-baik untuk mereka. thanks a lot :)